Dugaan Intimidasi di SD 001 Sebatik Tengah Guru PAI Pingsan Usai Alami Tekanan Mental oleh Kepala Sekolah

GEMAKALTARA.COM | SEBATIK, KALTARA – Dunia pendidikan di Sebatik Tengah diguncang kabar kurang menyenangkan. Seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI) berinisial H dikabarkan mengalami trauma berat hingga harus dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah diduga mendapatkan perlakuan intimidasi dari Kepala Sekolah SD 001 Sebatik Tengah, Hj. Sensusinah, S.Pd.
Kronologi Kejadian Kursi Melayang di Pagi Hari
Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, peristiwa bermula pada Senin pagi sekitar pukul 09.00 – 10.00 WITA. Saat itu, Ibu Hlm hendak menjalankan tugasnya untuk mengajar. Namun, kehadiran Ibu Hlm tampaknya memicu emosi Kepala Sekolah.
Menurut kesaksian Pak Mpp, sempat terjadi ketegangan di mana Kepala Sekolah yang sedang emosi mengangkat kursi dan menghempaskannya di depan Ibu Hlm. Meski kursi tersebut tidak mengenai fisik korban secara langsung, tindakan tersebut memberikan tekanan psikis yang hebat.
“Ibu H sempat disuruh pulang karena Kepala Sekolah tidak senang melihat kehadirannya, tapi Ibu H tetap ingin mengajar. Di situlah emosi memuncak hingga kursi dihempas,” ujar saksi.
Kondisi Korban: Syok hingga Dilarikan ke Tarakan
Anak dari Ibu Hlm mengonfirmasi bahwa ibundanya tidak mengalami luka fisik akibat lemparan kursi, namun mengalami syok berat (trauma mental) yang menyebabkan kondisinya menurun drastis.
“Secara fisik memang tidak kena, tapi mental ibu saya syok. Beliau sempat pingsan dan bicaranya mulai tidak teratur (ngawur). Kami sempat membawa ke Puskesmas Haji Kuning dan Sungai Nyamuk, namun karena kondisi fisik yang terus melemah dan tidak mau makan, kami memutuskan membawa ibu secara mandiri ke Tarakan untuk mendapatkan perawatan medis dan konsultasi psikolog,” ungkap anak korban.
Akar Masalah: Konflik Lama yang Belum Usai
Diketahui, hubungan antara Kepala Sekolah dan Ibu Hlm memang sudah tidak harmonis sebelum insiden ini terjadi. Upaya mediasi sebenarnya sempat direncanakan melalui Ketua KKG pada hari kejadian untuk mendamaikan kedua belah pihak, namun situasi justru memanas lebih dulu.
Pihak keluarga menyayangkan tindakan emosional yang dilakukan oleh seorang pimpinan sekolah. “Walaupun mungkin ada kesalahan dari ibu saya, apakah pantas seorang Kepala Sekolah melakukan tindakan seperti itu?” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, Hj. SS,S.Pd selaku Kepala Sekolah belum berada di tempat saat pihak media mencoba melakukan konfirmasi di SD 001 Sebatik Tengah.
Pihak keluarga menyatakan tidak memiliki niat untuk memperpanjang masalah jika ada itikad baik, namun mereka menuntut agar hak-hak Ibu Hlm sebagai tenaga pendidik diberikan sebagaimana mestinya tanpa ada intimidasi lebih lanjut. Terkait jalur hukum, keluarga masih mempertimbangkan perkembangan kondisi korban dan prosedur yang ada. (Tim)
![]()
