Nunukan

“Jeritan Seorang Anak di Balik RDP DPRD Nunukan: Saat Harga Diri Ibu Lebih Mahal dari Segalanya”

Bagikan ke

GEMAKALTARA.COM | NUNUKAN, KALTARA – Di tengah riuh birokrasi yang kerap menggaungkan kata “keadilan”, sebuah jeritan lirih justru terdengar paling nyaring. Bukan dari podium megah bukan pula dari ruang rapat berpendingin udara melainkan dari seorang anak yang menyaksikan ibunya terbaring lemah setelah memperjuangkan harga dirinya.

Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kabupaten Nunukan yang diharapkan menjadi pintu masuk penyelesaian persoalan justru menyisakan kepahitan mendalam bagi keluarga Ibu Halimah Nursakinah. Harapan yang dibawa dengan susah payah ke ruang sidang itu, pulang tanpa kepastian Lebih menyakitkan lagi tanpa hasil yang jelas.

Anak kandung Ibu Halimah meluapkan kekecewaannya melalui media sosial,Dalam status pribadinya ia menulis dengan nada getir

“Bukan materi yang kami tuntut, harga diri mama yang sudah diinjak-injak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang mengakibatkan kondisi mama sekarang seperti ini. Kami kira setelah melakukan beberapa upaya menyampaikan jeritan mama ke DPRD dengan harapan mama segera menemukan titik terang dan keadilan. Tapi hasil sangat mengecewakan, berat sebelah terpampang nyata dan berusaha menutup mata.”

Berita Terkait  Optimaslisasikan Pemanfaatan dan Perlindungan Lahan Pertanian, Ramsah Sosialisasikan Perda Kab. Nunukan No 3 Tahun 2024

Kalimat-kalimat itu bukan sekadar unggahan emosional. Itu adalah potret luka yang belum dijahit.Bagi keluarga persoalan ini bukan tentang nominal rupiah atau kompensasi materi.Ini tentang martabat seorang ibu yang merasa diperlakukan tidak adil.

Ironisnya,perjuangan itu harus dibayar mahal.Usai menghadiri rapat di DPRD kondisi kesehatan Ibu Halimah dilaporkan menurun drastis.Ia masih dalam perawatan di Setabu dan belum sempat kembali ke rumah.Bahkan saat berada di wilayah (Mantikas)sebatik barat ia harus digendong dan dilarikan ke puskesmas terdekat karena kondisinya tiba-tiba drop.

Di titik inilah publik patut bertanya untuk siapa sebenarnya ruang dengar pendapat itu dibuka? Jika rakyat datang membawa harapan dan pulang dengan kekecewaan maka ada yang keliru dalam cara mendengar

Berita Terkait  Miris! DPRD Nunukan Temukan Gedung Baru SD 005 Sungai Limau Terbengkalai Akibat Longsor, Keselamatan Siswa Terancam

RDP seharusnya menjadi ruang netral—tempat fakta diuji suara kecil diperbesar dan keadilan dicari dengan kepala dingin serta hati yang jernih,Namun jika kesan “berat sebelah” begitu kuat dirasakan oleh pihak yang mengadu, maka transparansi dan keberpihakan pada kebenaran layak dipertanyakan.

Lebih menyakitkan lagi ketika hasilnya nihil, sementara dampaknya nyata seorang ibu jatuh sakit setelah memperjuangkan kehormatannya sendiri Ini bukan lagi sekadar soal administrasi atau prosedur Ini soal empati.

Kritik pedas patut diarahkan pada mekanisme penyelesaian yang terkesan formalitas belaka.Jangan sampai RDP hanya menjadi panggung simbolik—lengkap dengan notulen dan dokumentasi—namun miskin keberanian mengambil sikap.Publik tidak butuh rapat yang panjang jika ujungnya adalah kesimpulan tanpa keberpihakan pada keadilan.

Berita Terkait  Polsek Sebatik Barat Berbagi Kasih Bagi Warga Kurang Mampu

Anak itu tidak menuntut kemewahan Ia hanya ingin harga diri ibunya dipulihkan Dalam sistem yang sehat permintaan seperti itu tidak semestinya terdengar berlebihan.

Kini, yang tersisa adalah pertanyaan moral bagi para pemangku kebijakan di Kabupaten Nunukan: apakah suara seorang ibu yang sakit harus lebih dulu tumbang agar didengar? Atau justru keadilan memang hanya akan datang bagi mereka yang cukup kuat bertahan dalam permainan kekuasaan?

Jika benar lembaga rakyat berdiri atas nama rakyat maka sudah waktunya membuktikan bahwa ruang dengar pendapat bukan sekadar ruang bicara, tetapi ruang keberanian untuk berpihak pada kebenaran.

Loading

Keep Scrolling

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *