Cahaya Qur’an di Perbatasan Pelajar dan Mahasiswa Palu Hidupkan Malam Nuzulul Qur’an Lewat Lomba Pawai Obor di Sebatik

GEMAKALTARA.COM | SEBATIK, KALTARA — Malam di Pulau Sebatik berubah menjadi lautan cahaya ketika ratusan obor mulai menyala dan bergerak perlahan menyusuri jalan dari PLBN Sebatik Sungai Pancang menuju Halaman Gedung Aztrada 88 Sungai Nyamuk, nyala api kecil itu berbaris rapi di tangan para pelajar, mahasiswa,pemuda hingga masyarakat yang berjalan bersama dalam suasana khidmat namun penuh kegembiraan.
Di pulau yang berdiri di garis perbatasan Indonesia–Malaysia ini,cahaya obor bukan sekadar penerang malam.Ia menjadi simbol kebersamaan,semangat religius dan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an.

Suasana tersebut hadir dalam lomba pawai obor yang digelar Ikatan Pelajar Mahasiswa Palu (IPMKN) dalam rangka memperingati malam Nuzulul Qur’an yang jatuh pada 17 Ramadan.Kegiatan itu diikuti ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat di Pulau Sebatik.
Di sepanjang rute pawai, cahaya obor yang berkelip memantul di wajah para peserta yang tampak antusias. Anak-anak berjalan dengan mata berbinar,para pemuda menjaga barisan tetap tertib, sementara masyarakat berdiri di tepi jalan menyaksikan pemandangan yang jarang terlihat dalam keseharian pulau perbatasan tersebut.
Bagi warga Sebatik,pawai obor bukan sekadar perlombaan.Ia adalah tradisi yang menghadirkan kehangatan sosial sekaligus menghidupkan nuansa religius di bulan suci Ramadan.
Ketua panitia kegiatan,Riswan mengatakan bahwa kegiatan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar lomba arak-arakan obor.

“Makna dari kegiatan ini adalah bagaimana kita menyambut bulan suci Ramadan dengan penuh kegembiraan.Selain itu kami memilih malam 17 Ramadan karena malam tersebut diyakini sebagai malam turunnya Al-Qur’an,sehingga menjadi momen yang sangat tepat untuk menggelar kegiatan bernuansa religi seperti pawai obor ini,” ujarnya.
Menurutnya,kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan sosial masyarakat di Pulau Sebatik, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap nilai-nilai Al-Qur’an.
Panitia juga melibatkan berbagai unsur masyarakat agar kegiatan dapat berjalan lancar dan aman,mulai dari aparat desa,tokoh pemuda, hingga aparat kepolisian yang turut membantu pengamanan selama pawai berlangsung.
“Kami mengumpulkan berbagai elemen,mulai dari unsur desa,pemuda,hingga pihak kepolisian agar kegiatan ini berjalan dengan lancar dan aman,” tambah Riswan.
Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian dari unsur Forkopimcam setempat yang hadir memberikan dukungan dan apresiasi atas inisiatif para pelajar dan mahasiswa dalam menghidupkan semangat Ramadan di tengah masyarakat.
Bagi para pemuda yang tergabung dalam IPMKN, kegiatan ini bukan sekadar perayaan tahunan,tetapi juga bentuk kontribusi nyata generasi muda dalam menjaga tradisi keagamaan dan memperkuat persaudaraan di wilayah perbatasan.
Riswan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan di masa mendatang dengan dukungan yang lebih besar dari pemerintah daerah.
“Kami berharap ke depan pemerintah daerah dapat memberikan dukungan lebih, termasuk melalui bantuan anggaran yang dapat menunjang kegiatan kepemudaan dan keagamaan seperti ini.Jika ada dukungan anggaran dari pemerintah, tentu kegiatan seperti ini bisa lebih besar dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat,” harapnya.
Di malam itu,ketika obor-obor perlahan padam setelah perjalanan panjang,pesan kebersamaan yang dibawa para peserta tetap menyala.Di Pulau Sebatik,cahaya kecil dari obor ternyata mampu menerangi lebih dari sekadar jalan—ia menyalakan semangat persatuan, religiusitas dan harapan di perbatasan negeri. (Ozzie)
![]()
