13 Anak TKI di Sebatik Terima PLB, Negara Hadir Pastikan Akses Pendidikan di Perbatasan

oleh -14 Dilihat
oleh

GEMAKALTARA.COM | NUNUKAN— Kehadiran negara di kawasan perbatasan kembali diwujudkan melalui langkah konkret.Sebanyak 13 anak tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia yang bersekolah di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan,Kalimantan Utara,menerima dokumen Pas Lintas Batas (PLB),Rabu (30/9/2026).

Penyerahan PLB dilakukan Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni bersama Kepala Kantor Imigrasi Nunukan Adrian Soetrisno di SD 05 Sei Limau,Kecamatan Sebatik Tengah.Kegiatan tersebut turut disaksikan Kepala Desa Sei Limau,Mardin serta perwakilan SD 04 Sei Limau,Andreas Baha.

Pemberian 13 PLB tersebut bukan sekadar penyelesaian administrasi lintas batas. Langkah itu menjadi bagian dari implementasi sinergi antara aparat penegak hukum (APH) perbatasan yang sebelumnya dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) saat penugasan perdana Petugas Imigrasi Pembina Desa (PIMPASA),Selasa (22/9/2026).

Kepala Kantor Imigrasi Nunukan Adrian Soetrisno mengatakan,PLB menjadi salah satu bentuk kepastian identitas bagi anak-anak yang berada dalam situasi pendidikan lintas batas tersebut.

“Kita berharap,PLB yang merupakan pembuktian identitas WNI,bisa memotivasi anak-anak kami untuk mengejar cita-citanya.Lebih semangat belajar dan mengangkat derajat orang tuanya,” ujar Adrian.

Sementara itu, Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni menegaskan,penyerahan PLB memiliki makna lebih luas daripada sekadar pemberian dokumen kewarganegaraan.

Menurut dia,langkah tersebut menjadi penegasan bahwa negara hadir dan memberikan perhatian terhadap anak-anak Indonesia yang tumbuh dan menempuh pendidikan di kawasan perbatasan.

“Kita menegaskan kehadiran negara di tapal batas.PLB tak sekadar dokumen yang membuktikan identitas kewarganegaraan bagi anak-anak TKI kita.Itu juga bermakna dalam,termasuk bentuk keprihatinan atas nasib anak-anak kita,”kata Ruslaeni.

Ia menilai anak-anak tersebut membutuhkan perhatian khusus karena menghadapi tantangan tersendiri untuk mendapatkan akses pendidikan.

“Mereka butuh perhatian khusus.Perjuangan mereka untuk sekolah harus mendapat dukungan hingga mereka meraih cita-cita,” tegasnya.

Tak berhenti pada kepastian dokumen,Polres Nunukan juga menyatakan akan menindaklanjuti persoalan akses transportasi yang selama ini menjadi salah satu tantangan bagi anak-anak tersebut.

Ruslaeni mengatakan,polisi akan mengupayakan penyediaan mobil angkutan bagi mereka.Langkah itu diharapkan dapat membantu anak-anak tetap bersekolah tanpa terkendala persoalan akses.

Polisi juga akan menggandeng Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) untuk membantu proses pengurusan berbagai dokumen administrasi yang dibutuhkan.

“Kita tak boleh diam melihat potensi mereka berhenti sekolah cukup tinggi dengan alasan akses belajar yang sulit.Generasi bangsa kita harus memiliki pendidikan tinggi agar memiliki daya saing yang hebat,” tegas Ruslaeni.

Adrian menambahkan,sinergi antara Imigrasi dan Polres Nunukan menunjukkan bahwa persoalan masyarakat di wilayah perbatasan tidak dapat ditangani secara sektoral.

“Garis batas negara itu tak kasat mata.Itu kenapa Imigrasi bersama Polisi hadir memastikan apa saja yang harus dipenuhi dan apa kewajiban kami untuk mereka,” jelas Adrian.

Penyerahan PLB tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa perhatian terhadap kawasan perbatasan tidak berhenti pada aspek keamanan dan pengawasan lintas negara.Di balik garis batas,terdapat anak-anak Indonesia yang membutuhkan kepastian identitas,akses pendidikan,serta dukungan agar tetap memiliki kesempatan mengejar masa depan.

Bagi mereka,dokumen PLB bukan sekadar kartu perjalanan.Ia menjadi bagian dari kepastian sebagai warga negara sekaligus pintu untuk terus menempuh pendidikan di wilayah perbatasan. (Ozzie)