RS Pratama Sungai Taiwan “Memprihatinkan”Anggota DPRD Soroti Fasilitas dan Akreditasi yang “Dipaksakan”

GEMAKALTARA.COM | SEBATIK, KALTARA – Jajaran Ketua Komisi I DR Andi mulyono SH.MH,Ketua komis II Andi Fajrul SH di dampingi Sekretaris komisi II dan Ketua komisi III Ryan Antoni Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nunukan melakukan inspeksi mendadak (sidak) terkait Kondisi sarana dan prasarana di Rumah Sakit (RS) Pratama Sungai taiwan,yang terletak di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia,menuai sorotan tajam dari pihak legislatif.Anggota Komisi I DPRD, Dr. Andi Mulyono, SH. MH,mengungkapkan keprihatinan mendalam setelah meninjau langsung fasilitas kesehatan tersebut yang dinilai jauh dari standar layak bagi masyarakat.
Dalam peninjauannya Dr. Andi mulyono menyoroti kondisi fisik bangunan yang terlihat tidak terawat. Salah satu temuan yang paling mencolok adalah kualitas pengecatan dinding yang sangat buruk cat sudah mengelupas dan meninggalkan noda putih pada pakaian siapa pun yang bersandar di tembok rumah sakit.
“Kita tidak bisa menutupi fakta karena semua mata melihat dan telinga mendengar.Sangat tidak nyaman saat orang tidak sengaja bersandar di tembok, baju mereka langsung kena putih-putihnya. Ini tampilan sebuah rumah sakit” seharusnya memberikan kenyamanan bukan malah membuat prihatin,” ujar Dr. Andi Mulyono dengan nada kecewa.
Selain masalah fisik,politisi ini juga mempertanyakan kematangan perencanaan pembangunan RS tersebut, termasuk pengadaan ruang operasi.Ia memberikan peringatan keras agar peningkatan status akreditasi fasilitas kesehatan di daerah tidak dilakukan dengan cara memanipulasi kenyataan di lapangan demi mengejar nilai semata.
“Kita harus jujur apa adanya. Inilah realita yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah maupun pusat. Jangan sampai demi nilai akreditasi, kita mengadakan yang sebenarnya tidak ada atau belum mampu, sehingga dianggap sudah mandiri padahal kemampuannya dibuat-buat,” tegasnya.
Menurut Dr. Andi mulyono, kejujuran mengenai kondisi riil sangat krusial agar pemerintah pusat menyadari adanya ketimpangan pelayanan kesehatan di wilayah perbatasan. Ia khawatir jika kondisi buruk dilaporkan sebagai “baik”, maka evaluasi dan bantuan anggaran dari pusat tidak akan pernah tepat sasaran.
Persoalan di RS Pratama Sungai Taiwan ternyata tidak berhenti pada infrastruktur,Dr Andi menemukan adanya krisis tenaga kesehatan (nakes). Jumlah nakes yang tersedia saat ini dianggap sangat minim dan tidak sebanding dengan kebutuhan layanan medis bagi masyarakat Sebatik.

“Kami menemukan tenaga kesehatan di sini masih sangat minim.Padahal bagi kami di Sebatik,jika ada keadaan darurat atau pasien yang sudah sekarat,penanganan sangat sulit dilakukan jika fasilitas dan orangnya tidak siap,” lanjutnya.
Sentil Kebiasaan “Poles Citra”
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Andi juga menyentil kebiasaan oknum pemerintah yang kerap melakukan “poles citra” atau perbaikan instan hanya saat ada kunjungan pejabat. Ia mengibaratkan hal ini dengan perbaikan jalan rusak yang tiba-tiba dilakukan secara mendadak.
“Jangan seperti jalan berlubang yang tiba-tiba dimuluskan hanya karena mau ada pejabat datang. Itu salah. Harusnya biarkan pejabat tahu jalannya berlubang supaya mereka paham bahwa daerah ini perlu anggaran besar. Begitu juga dengan rumah sakit ini, biarkan apa adanya supaya jadi bahan evaluasi,” tambahnya.
Menutup pernyataannya Dr Andi mulyono menekankan bahwa kesehatan dan pendidikan adalah pilar utama kesejahteraan masyarakat. Ia mendesak pemerintah untuk memberikan perhatian nyata, bukan sekadar pembenahan tampilan luar yang dipaksakan. (Ozzie)
![]()
