Gelap di Beranda Negeri, 40 KK Kampung Table ” Loudress” di Sebatik Hidup Tanpa Listrik, Negara di Mana?

GEMAKALTARA.COM | NUNUKAN,KALTARA — Di saat pemerintah gencar berbicara soal transformasi digital,hilirisasi industri,hingga mimpi besar Indonesia maju,fakta pahit justru masih menghantui wilayah perbatasan. Sekitar 40 kepala keluarga (KK) di Kampung Table/Lourdes, Sebatik Tengah, hingga hari ini masih hidup tanpa aliran listrik.
Ini bukan sekadar keterlambatan pembangunan—ini adalah potret nyata kegagalan negara menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyatnya.

Ketua RT setempat, Stiven tak lagi bisa menyembunyikan kekecewaan warganya. Bertahun-tahun hidup dalam gelap, tanpa kepastian kapan listrik akan masuk, membuat masyarakat merasa benar-benar ditinggalkan.
“Kami ini seperti anak tiri di negeri sendiri. Tinggal di wilayah perbatasan, tapi tidak pernah benar-benar diperhatikan. Listrik saja tidak ada sampai sekarang,” tegas Stiven.
Ironisnya, wilayah ini bukan daerah terpencil di tengah hutan belantara tanpa akses. Sebatik adalah kawasan strategis perbatasan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Namun, alih-alih menjadi etalase kemajuan, kondisi Kampung Table/Lourdes desa sungai limau kacamatan sebatik tengah kabupaten nunukan justru memperlihatkan wajah ketimpangan yang memalukan.
Ketiadaan listrik bukan sekadar soal gelap di malam hari. Ini adalah pembatas masa depan.Anak-anak terpaksa belajar dengan penerangan seadanya,aktivitas ekonomi lumpuh dan akses informasi nyaris tertutup.Di era ketika listrik adalah kebutuhan dasar,warga di sini justru dipaksa bertahan seperti hidup puluhan tahun ke belakang.
Lebih parah lagi,hingga kini belum ada kejelasan konkret dari pemerintah terkait solusi.Janji-janji pembangunan terdengar nyaring di pusat,tetapi nyaris tak bergaung di perbatasan.
“Kalau terus begini, sampai kapan kami harus menunggu? Kami juga warga negara Indonesia,bukan warga kelas dua,” tambah Stiven.
Sebagian warga bahkan harus merogoh kocek sendiri untuk menggunakan genset dengan biaya yang tidak sedikit. Sebuah ironi ketika negara menjanjikan keadilan energi, tetapi warganya harus membayar mahal hanya untuk sekadar menikmati cahaya.
Kondisi ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah hingga pusat.Bagaimana mungkin berbicara soal kemajuan dan pemerataan,jika di beranda negeri sendiri masih ada rakyat yang hidup dalam gelap?
Kampung Table/Lourdes di Sebatik Tengah hari ini bukan sekadar cerita keterbatasan—melainkan simbol ketidakadilan yang nyata.Jika negara terus abai,maka wajar jika kepercayaan masyarakat di perbatasan perlahan padam,sama seperti lampu yang tak pernah menyala di rumah-rumah mereka. (Ozzie)
![]()
