DaerahNunukan

Hari Pertama”MPLS” 2026/2027,Sejumlah Sekolah di Sebatik Tengah Terendam Banjir

Bagikan ke

GEMAKALTARA.COM | SEBATIK, KALTARA – Hari pertama pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di Kecamatan Sebatik Tengah,Kabupaten Nunukan, Senin (13/7/2026) diwarnai banjir yang merendam sejumlah sekolah dan fasilitas umum akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak dini hari.

Ketika ribuan siswa memulai tahun ajaran baru dengan penuh semangat, genangan air justru menguasai halaman hingga sebagian ruang di sejumlah satuan pendidikan. Kondisi ini tidak menyurutkan antusiasme para peserta didik yang tetap hadir mengikuti kegiatan MPLS meski harus melewati akses yang tergenang.

Sekolah yang tetap melaksanakan kegiatan MPLS di tengah banjir di antaranya SDN 01 Sebatik Tengah,PAUD Mekar Bangsa Aji Kuning dan SDN 03 Desa Bukit Harapan, Para guru bersama pihak sekolah berupaya memastikan kegiatan pengenalan lingkungan sekolah tetap berjalan dengan mengutamakan keselamatan peserta didik.

Berita Terkait  Bupati Membuka Secara Resmi Kick Off Fase 4 Program Sekolah Enuma Indonesia di Sebatik

Sementara itu,bangunan sekolah yang terdampak banjir meliputi PAUD Mekar Bangsa Aji Kuning,SDN 01 Sebatik Tengah,SDN 06 Sebatik Tengah dan SMP Negeri 1 Sebatik Tengah.Selain fasilitas pendidikan,genangan air juga merendam area Kantor Desa Aji Kuning**, menunjukkan bahwa banjir tidak hanya mengganggu aktivitas belajar mengajar, tetapi juga pelayanan pemerintahan di tingkat desa.

Pemandangan siswa yang berjalan menembus genangan air menjadi potret kontras pada hari pertama masuk sekolah.Di tengah semangat menyambut tahun ajaran baru, mereka masih harus berhadapan dengan persoalan banjir yang hampir setiap musim hujan kembali terjadi.

Salah seorang orang tua murid, Asdar,berharap pemerintah tidak hanya menjadikan banjir sebagai persoalan musiman, tetapi segera menghadirkan solusi nyata.

“Kami berharap pemerintah benar-benar memperhatikan kondisi di lapangan.Kasihan anak-anak yang harus berangkat sekolah melewati banjir.Semoga ada solusi permanen agar banjir seperti ini tidak terus terjadi setiap kali hujan deras turun,” ujar Asdar.

Menurutnya,kondisi tersebut tidak hanya mengganggu proses belajar,tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan dan kesehatan para siswa,terutama anak-anak usia dini yang harus beraktivitas di lingkungan yang tergenang air.

Sejumlah orang tua lainnya juga menyampaikan harapan agar pemerintah segera melakukan pembenahan sistem drainase dan infrastruktur di sekitar kawasan sekolah sehingga aktivitas pendidikan tidak lagi terganggu setiap musim penghujan.

Berita Terkait  Maulid Nabi di Masjid Al-Kautsar,Jamaah Disebut Terbanyak dalam Tujuh Tahun Terakhir

Banjir yang terjadi bertepatan dengan hari pertama MPLS menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari proses belajar mengajar di ruang kelas,tetapi juga ditentukan oleh tersedianya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan layak bagi seluruh peserta didik.

Di tengah genangan yang masih merendam halaman sekolah,para siswa tetap mengikuti rangkaian MPLS dengan penuh antusias.Semangat mereka menjadi simbol ketangguhan anak-anak perbatasan dalam mengejar pendidikan.Namun di balik semangat itu,tersimpan pekerjaan rumah besar bagi pemerintah untuk menghadirkan infrastruktur yang lebih baik agar proses pendidikan tidak lagi dibayangi ancaman banjir setiap kali hujan mengguyur wilayah Sebatik Tengah. (Ozzie)

Loading

Keep Scrolling

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *