DaerahSebatik

Gotong Royong Jadi Benteng Pertama Cegah Banjir, Warga Aji Kuning Bergerak Sebelum Hujan Datang

Bagikan ke

GEMAKALTARA.COM | SEBATIK TENGAH, KALTARA – Hujan belum turun,tetapi warga Desa Aji Kuning sudah lebih dulu bergerak. Bagi mereka, banjir bukan sekadar bencana yang datang setiap musim penghujan, melainkan ancaman yang harus dicegah bersama. Di atas semangat kebersamaan itulah,puluhan warga RT 11 dan RT 12,Jalan Sejahtera,bergandengan tangan membersihkan saluran drainase dan lingkungan permukiman dalam kegiatan  “Jumat Bersih”, Jumat (31/7/2026).

Sejak matahari mulai meninggi,suara cangkul, sekop dan parang silih berganti memecah keheningan pagi.Tanpa menunggu instruksi panjang,warga langsung membagi tugas.Sebagian mengangkat endapan lumpur yang mengeras di dasar drainase,sebagian lainnya memangkas semak yang menutupi saluran air.Pelepah kelapa sawit,ranting,sampah rumah tangga,hingga material lain yang selama ini menghambat aliran air di bawah jembatan diangkat bersama-sama.

Pemandangan itu bukan sekadar kerja bakti biasa.Di balik setiap ayunan cangkul dan setiap karung sampah yang terangkut,tersimpan satu tujuan yang sama’memastikan air hujan nantinya mengalir tanpa hambatan dan tidak lagi berubah menjadi genangan yang mengganggu kehidupan warga.

Berita Terkait  Bupati Nunukan Hadiri Puncak Acara Hari Anak Nasional 2024

Musim hujan selalu membawa kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat Aji Kuning.Pengalaman menghadapi banjir pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran berharga bahwa saluran drainase yang tersumbat dapat mempercepat luapan air ke jalan hingga memasuki halaman rumah warga.Kesadaran itulah yang mendorong masyarakat memilih bertindak sebelum risiko itu kembali datang.

Aksi gotong royong tersebut diikuti berbagai unsur masyarakat dan pemerintah desa.Kepala Desa Aji Kuning, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kepala dusun,para ketua RT,tokoh masyarakat,pemuda hingga warga dari berbagai kalangan turun langsung bekerja bersama.Tidak ada sekat jabatan maupun perbedaan peran.Semua menyatu dalam satu tujuan menjaga desa tetap aman menghadapi musim penghujan.

Kolaborasi itu menjadi bukti bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya mengandalkan pembangunan fisik semata.Infrastruktur yang baik akan kehilangan fungsinya apabila tidak dirawat secara bersama.Sebaliknya,kesadaran kolektif masyarakat mampu menjadi kekuatan utama dalam memperpanjang usia infrastruktur sekaligus mengurangi potensi bencana.

Berita Terkait  Sosialisasi Pendidikan Pemilih : "Membangun Kesadaran Politik dan Peran Pemuda Dalam Demokrasi"

Kepala Desa Aji Kuning mengapresiasi tingginya kepedulian masyarakat yang tetap mempertahankan budaya gotong royong sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, upaya pencegahan banjir harus dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.

“Kebersamaan seperti inilah yang menjadi kekuatan desa. Ketika masyarakat memiliki kepedulian yang sama terhadap lingkungan,maka upaya mencegah banjir akan jauh lebih efektif.Kami berharap saluran drainase yang telah dibersihkan mampu mengalirkan air dengan baik sehingga risiko genangan dapat ditekan saat musim hujan tiba,” ujarnya.

Ia menegaskan,menjaga kebersihan lingkungan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial.Budaya merawat drainase,tidak membuang sampah sembarangan,serta terus membangun kepedulian sosial harus menjadi kebiasaan yang diwariskan kepada generasi berikutnya agar desa memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap perubahan cuaca.

Berita Terkait  Pengemudi Mobil Mengaku Dikejar Orang Tak Dikenal di Penurunan Bukit Pertamina Aji Kuning

Warga pun menyambut ajakan tersebut dengan antusias.Mereka sepakat menjadikan kegiatan bersih lingkungan sebagai agenda berkala.Bagi masyarakat,gotong royong bukan hanya warisan budaya,tetapi juga solusi nyata yang paling dekat dan paling efektif dalam menjaga keselamatan bersama.

Menjelang siang, hasil kerja keras itu mulai terlihat.Drainase yang sebelumnya dipenuhi lumpur dan sampah kembali terbuka, aliran air mengalir lancar,sementara jalan lingkungan tampak lebih bersih dan tertata.Perubahan fisik itu memang terlihat sederhana,tetapi manfaatnya akan dirasakan ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

Di tengah tantangan perubahan iklim yang membuat cuaca semakin sulit diprediksi,Desa Aji Kuning mengirimkan pesan sederhana namun bermakna’ketangguhan sebuah desa tidak selalu lahir dari proyek-proyek besar,melainkan dari kepedulian warganya yang memilih bergandengan tangan sebelum bencana datang. Di sanalah gotong royong kembali membuktikan diri sebagai benteng pertama yang menjaga kehidupan masyarakat. (Ozzie)

Loading

Keep Scrolling

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *