Krisis BBM di Sebatik, Bensin Malaysia Diburu Warga hingga Rp25 Ribu per Botol

oleh -288 Dilihat
oleh

GEMAKALTARA.COM | SEBATIK —Di pulau yang menjadi salah satu beranda terdepan Indonesia,warga justru harus menoleh ke seberang perbatasan untuk mendapatkan bahan bakar.

Kelangkaan BBM kembali dirasakan masyarakat Pulau Sebatik,Kabupaten Nunukan,Kalimantan Utara.Ketika bensin semakin sulit diperoleh,sebagian warga memilih mencari bensin asal Malaysia agar kendaraan tetap bisa digunakan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Harganya tidak murah. Di sejumlah titik,bensin Malaysia disebut dijual sekitar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per botol.

Bagi masyarakat,harga tersebut menjadi beban tambahan.Namun dalam kondisi ketika mendapatkan BBM saja menjadi persoalan,pilihan untuk membeli bensin dari negara tetangga dianggap lebih baik daripada kendaraan berhenti total.

“Kalau BBM susah didapat,mau tidak mau cari yang ada.Yang penting kendaraan bisa digunakan untuk bekerja dan aktivitas sehari-hari,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak disebutkan.

Persoalan ini memperlihatkan sebuah ironi di kawasan perbatasan.

Sebatik berada di Indonesia,tetapi ketika BBM sulit diperoleh,sebagian warga justru mencari bahan bakar dari Malaysia.

Bagi warga Sebatik,BBM bukan barang pelengkap.Bahan bakar menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Motor digunakan untuk bekerja.Kendaraan dipakai mengangkut barang.Pedagang membutuhkannya untuk menjalankan usaha.Mobilitas masyarakat dari satu wilayah ke wilayah lain juga bergantung pada ketersediaan bahan bakar.

Karena itu,ketika BBM sulit diperoleh,dampaknya cepat terasa.Masalahnya kemudian bukan hanya apakah bensin tersedia atau tidak.Berapa harga yang harus dibayar warga untuk tetap bergerak?

Jika harus membeli bensin Malaysia seharga Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per botol secara berulang,pengeluaran masyarakat otomatis bertambah.

Bagi warga dengan penghasilan terbatas,tambahan biaya bahan bakar bukan perkara kecil.

Posisi geografis Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia membuat fenomena tersebut memiliki konteks tersendiri.

Kedekatan wilayah menyebabkan produk dari negara tetangga relatif mudah ditemui.Ketika pasokan BBM dalam negeri sulit didapat,sebagian masyarakat kemudian beralih pada alternatif yang tersedia.

Di sinilah persoalan menjadi lebih serius.

Fenomena tersebut semestinya tidak berhenti pada pertanyaan tentang warga yang membeli bensin Malaysia.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah’Mengapa warga Sebatik sampai harus berburu BBM dari negara tetangga?

Pertanyaan itu menyentuh persoalan yang lebih mendasar mengenai ketersediaan dan kelancaran distribusi BBM bagi masyarakat di wilayah perbatasan.

Sebab kebutuhan BBM bukan kebutuhan musiman.Setiap hari masyarakat membutuhkan bahan bakar untuk bekerja,berdagang,mengangkut barang,bepergian dan menjalankan aktivitas ekonomi.

Biaya transportasi dapat meningkat.Ongkos distribusi barang bisa bertambah.Pelaku usaha kecil harus mengeluarkan modal lebih besar.Pada akhirnya,tekanan biaya tersebut dapat ikut memengaruhi harga kebutuhan masyarakat.

Yang paling terdampak adalah warga yang setiap hari bergantung pada kendaraan untuk mencari penghasilan.

Mereka tidak memiliki banyak pilihan.

Tidak membeli BBM berarti aktivitas terhenti.

Membeli bensin dengan harga lebih tinggi berarti pendapatan yang diperoleh harus kembali dikeluarkan untuk biaya operasional.

Dalam kondisi seperti ini,masyarakat membutuhkan kepastian,bukan sekadar solusi sementara.

Sebatik memiliki posisi strategis sebagai wilayah perbatasan Indonesia.

Karena itu,persoalan ketersediaan BBM semestinya dipandang sebagai bagian dari kepentingan pelayanan dasar masyarakat sekaligus ketahanan ekonomi kawasan perbatasan.

Warga tidak semestinya terus-menerus berada dalam situasi harus mencari sendiri sumber bahan bakar alternatif ketika pasokan mengalami persoalan.

Pemerintah dan pihak terkait perlu memastikan rantai pasok BBM berjalan dengan baik,distribusi menjangkau masyarakat dan kebutuhan warga di wilayah perbatasan dapat dipenuhi secara wajar.

Sebab persoalannya kini sudah lebih besar daripada sekadar bensin yang sulit ditemukan.

Ada masyarakat yang harus membayar lebih mahal agar bisa tetap bekerja.Ada usaha kecil yang harus menanggung biaya tambahan.Dan ada aktivitas ekonomi yang bergantung pada satu hal sederhana: tersedianya BBM.

Fenomena bensin Malaysia yang diburu warga hingga Rp25 ribu per botol seharusnya menjadi perhatian serius.

Sebab jika kondisi tersebut terus berulang,masyarakat bisa semakin terbiasa menjadikan “BBM dari negara tetangga sebagai jalan keluar”.

Dan di situlah letak persoalan yang sesungguhnya.!

Di sebuah pulau yang menjadi beranda Indonesia,warga seharusnya tidak perlu menyeberang secara ekonomi ke negara tetangga hanya untuk memastikan kendaraan mereka tetap menyala.

Yang dibutuhkan masyarakat Sebatik bukan sekadar bensin.

Mereka membutuhkan kepastian bahwa negara hadir,pasokan tersedia dan kebutuhan dasar warga perbatasan benar-benar menjadi prioritas. (Ozzie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.