Resmikan Iraw Tidung Borneo Bersatu ke-4,Irwan Sabri” Jangan Lupakan Akar Budaya di Tengah Modernisasi”

oleh -80 Dilihat
oleh

NUNUKAN – Batas negara boleh memisahkan wilayah,tetapi tidak harus memutus persaudaraan.Di tengah perubahan zaman yang kian cepat,masyarakat Tidung di Pulau Borneo memiliki warisan yang menyatukan mereka,bahasa,adat istiadat,sejarah dan identitas budaya leluhur.

Semangat itulah yang mengemuka dalam pembukaan Iraw Tidung Borneo Bersatu ke-4 Tahun 2026 di Desa Binusan,Kabupaten Nunukan,Kalimantan Utara, Jumat (9/10/2026)

Perhelatan ini menjadi momentum mempererat silaturahmi masyarakat Tidung lintas negara sekaligus memperkuat komitmen menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah generasi penerus.

Bupati Nunukan H.Irwan Sabri,S.E.,secara resmi membuka kegiatan tersebut dengan mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim”

Dalam sambutannya,Irwan menekankan bahwa kemajuan zaman tidak boleh membuat masyarakat kehilangan jati diri.Pelestarian budaya,menurut pesan yang disampaikannya,harus menjadi tanggung jawab bersama,terutama dalam memastikan generasi muda tetap mengenal akar sejarah dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Kehadiran masyarakat Tidung dari Malaysia,Filipina dan Brunei Darussalam semakin mempertegas makna kegiatan tersebut.Iraw Tidung Borneo Bersatu bukan sekadar pertemuan budaya,melainkan ruang untuk merawat ikatan persaudaraan yang melampaui batas geografis dan administrasi negara.

Kegiatan ini turut dihadiri unsur pemerintah daerah,anggota DPRD,para camat,tokoh adat,tokoh masyarakat serta tamu undangan.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi,tantangan pelestarian budaya tidak cukup dijawab dengan mempertahankan pertunjukan adat.Lebih dari itu,nilai-nilai budaya harus tetap dipahami,digunakan dan diwariskan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa,adat istiadat,tradisi dan kearifan lokal merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Tidung.Jika tidak diperkenalkan secara berkelanjutan kepada generasi muda,warisan tersebut berisiko kehilangan tempat di tengah perubahan pola hidup dan pengaruh budaya luar.

Karena itu,pesan Irwan menjadi pengingat bahwa modernisasi dan pelestarian budaya tidak seharusnya dipertentangkan.Masyarakat dapat terus berkembang,memanfaatkan teknologi dan beradaptasi dengan perubahan tanpa harus meninggalkan identitas yang membentuk sejarah mereka.

“Jangan sampai kita menjadi generasi yang maju secara teknologi,tetapi lupa dengan akar budaya sendiri,”demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan Bupati Nunukan.

Pesan tersebut menempatkan generasi muda sebagai salah satu kunci keberlanjutan budaya Tidung.Kebanggaan terhadap warisan leluhur perlu ditumbuhkan sejak dini agar identitas budaya tidak berhenti sebagai cerita masa lalu,melainkan tetap menjadi bagian dari kehidupan masa kini dan masa depan.

Kehadiran komunitas Tidung dari sejumlah negara menjadi salah satu penanda penting dalam Irau Tidung Borneo Bersatu ke-4.Pertemuan ini memperlihatkan bahwa hubungan kultural dapat tetap terjalin meskipun masyarakat hidup di wilayah administrasi negara yang berbeda.

Di kawasan Borneo,ikatan sejarah dan budaya memiliki ruang untuk memperkuat hubungan antarkomunitas.Namun,persaudaraan tersebut tidak cukup dirayakan melalui pertemuan seremonial.Ia perlu dirawat melalui komunikasi,saling menghormati dan kepedulian bersama terhadap keberlangsungan tradisi.

Semangat “Borneo Bersatu” dengan demikian bukan semata slogan perayaan.Maknanya terletak pada kemampuan masyarakat menjaga kebersamaan,menghargai keberagaman dan menjadikan warisan budaya sebagai jembatan persaudaraan lintas negara.

Pada saat yang sama,kecintaan terhadap identitas sendiri harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap budaya lain.Sikap tersebut penting agar pelestarian tradisi tidak hanya memperkuat kebanggaan masyarakat Tidung,tetapi juga mendukung kehidupan sosial yang harmonis.

Kemegahan sebuah perhelatan budaya pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau kemeriahan rangkaian acaranya.Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana nilai-nilai yang dirayakan mampu bertahan dan diteruskan setelah kegiatan berakhir.

Keluarga,tokoh adat,komunitas,lembaga pendidikan dan pemerintah memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya.Pengenalan bahasa daerah,pembelajaran adat istiadat,dokumentasi sejarah serta pelibatan generasi muda dalam kegiatan kebudayaan merupakan bagian dari upaya agar warisan leluhur tidak terputus oleh pergantian generasi.

Iraw Tidung Borneo Bersatu ke-4 menjadi pengingat bahwa menjaga budaya bukan pekerjaan satu hari ataupun tanggung jawab satu kelompok.Dibutuhkan keterlibatan bersama agar nilai-nilai luhur masyarakat Tidung tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Bagi Kabupaten Nunukan sebagai wilayah perbatasan, perhelatan ini juga menghadirkan pesan tentang pentingnya merawat persaudaraan dan identitas budaya di tengah kehidupan masyarakat yang terhubung dengan berbagai wilayah di Borneo.

Pada akhirnya,persaudaraan lintas negara akan semakin bermakna ketika dibarengi komitmen menjaga akar budaya.Dari Nunukan,semangat Borneo Bersatu diharapkan tidak berhenti sebagai perayaan tahunan,tetapi terus hidup melalui tradisi yang dijaga,identitas yang dihormati dan warisan leluhur yang diteruskan kepada generasi mendatang. (Ozzie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.