Ramsah Apresiasi Festival Beduk Sahur,Syiar Ramadan Menggetarkan Hati dan Meneguhkan Ukhuwah di Sebatik

GEMAKALTARA.COM | SEBATIK – Di hamparan malam Ramadan 1447 H/2026 M yang sunyi dan penuh keberkahan,dentuman beduk sahur menggema menembus keheningan,seakan menjadi panggilan langit bagi hati-hati yang masih lalai.Ia bukan sekadar bunyi,melainkan seruan iman—menghidupkan jiwa,membangunkan kesadaran dan mengajak manusia kembali bersujud di hadapan Allah SWT.
Festival Beduk Sahur Ramadan MBU Cup IV hadir bukan hanya sebagai ajang tradisi,tetapi sebagai syiar yang menggugah.Ia menghidupkan sunnah kebersamaan,menyalakan cahaya dakwah di tengah masyarakat,serta menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah madrasah ruhani—tempat jiwa ditempa,iman dikuatkan dan dosa-dosa diharapkan luruh dalam ampunan-Nya.

Kolaborasi MBU Aztrada 88 Sebatik bersama Dewan Kerja Ranting (DKR) Gerakan Pramuka Sebatik Timur menghadirkan 15 peserta dari lima kecamatan di Pulau Sebatik.Mereka bukan sekadar peserta lomba,melainkan penjaga denyut tradisi Islam yang sarat makna.Setiap pukulan beduk yang menggema di penjuru kampung menjadi simbol dakwah yang hidup—mengajak umat bangkit dari kelalaian, menjemput sahur dan menghidupkan malam dengan ibadah.
Di waktu sahur,saat doa-doa tidak tertolak dan pintu ampunan terbuka lebar—gema beduk menjadi pengingat bahwa kesempatan mendekat kepada Allah SWT tidak boleh disia-siakan.Ia adalah seruan untuk kembali,sebelum waktu benar-benar habis.
Anggota DPRD Kabupaten Nunukan,Ramsah, menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya kegiatan ini. Dengan nada penuh keprihatinan sekaligus harap, ia menilai bahwa di tengah arus zaman yang kian menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual,kegiatan seperti ini menjadi benteng yang menjaga ruh keislaman tetap hidup.
“Kegiatan ini bukan sekadar hiburan atau perlombaan.Ini adalah bagian dari dakwah.Di dalamnya ada nilai ibadah,ada ajakan untuk mengingat Allah dan ada upaya menjaga generasi muda agar tidak tercerabut dari akar tradisi Islam,Jika kegiatan seperti ini ditinggalkan,maka yang hilang bukan hanya budaya,tetapi juga ruh kebersamaan dan kesadaran beragama,” ucapnya.
Ia pun berharap Festival Beduk Sahur tidak berhenti sebagai seremoni tahunan,tetapi menjadi gerakan yang terus hidup,mengakar dan istiqamah menanamkan nilai keikhlasan, memperkuat ukhuwah Islamiyah serta membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Lebih jauh,festival ini seakan menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.Ramadan adalah momentum hijrah dari lalai menuju taat,dari gelap menuju cahaya,dari rutinitas dunia menuju kesadaran akhirat.Di sinilah beduk sahur mengambil peran sebagai “penyeru sunyi” yang membangunkan hati, bukan hanya raga.
Di antara denting beduk yang bersahutan dan doa-doa yang lirih dipanjatkan,tersimpan harapan besar,agar setiap getaran suara menjadi saksi amal,setiap langkah menjadi ibadah dan setiap kebersamaan bernilai ukhuwah yang diridhai Allah SWT.
Menjelang penghujung Ramadan, gema beduk sahur di Sebatik terasa kian dalam maknanya.Ia bukan lagi sekadar tradisi,melainkan seruan terakhir,mengajak umat untuk berbenah,memperbanyak taubat dan menjemput kemenangan sejati di Hari Raya Idulfitri dengan hati yang bersih,iman yang kokoh,serta jiwa yang tunduk penuh keikhlasan di hadapan Allah SWT.
Mengakhiri pernyataannya, Ramsah menyampaikan ucapan hangat kepada seluruh masyarakat.
“Selamat Hari Raya Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua kembali dalam keadaan fitrah dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT,” tutupnya. (Ozzie)
![]()
