Modus Licik Berkedok Pesanan Puskesmas,Pemilik Restoran Kebunku di Nunukan Tertipu Rp900 Ribu

GEMAKALTARA.COM | NUNUKAN, KALTARA — Aksi penipuan dengan modus “kelebihan transfer” kembali memakan korban di Kabupaten Nunukan. Kali ini, pelaku usaha kuliner menjadi sasaran empuk. Pemilik Restoran Kebunku, Masayu Nilawati harus merelakan uang Rp900 ribu raib digondol penipu yang berpura-pura menjadi pegawai puskesmas.
Ironisnya, pelaku menjalankan aksinya dengan sangat rapi dan meyakinkan. Bermodal suara sopan, identitas palsu, serta bukti transfer abal-abal, pelaku sukses memperdaya korban hingga percaya telah menerima pembayaran jutaan rupiah.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (8/5/2026), saat korban menerima telepon dari nomor 0857-2616-8019. Pelaku mengaku bernama Kurniawan Dwi Prasetyo dan memesan 60 kotak nasi ayam untuk kebutuhan kegiatan puskesmas.
Layaknya pelanggan resmi dari instansi pemerintah, pelaku meminta dibuatkan nota pemesanan dan nomor rekening restoran dengan alasan pembayaran akan segera ditransfer.
“Dia bicara sangat meyakinkan. Mengaku dari puskesmas dan buru-buru minta nota serta nomor rekening,” ujar Masayu
Tak lama kemudian, pelaku mengirimkan bukti transfer sebesar Rp3 juta. Padahal total pesanan hanya Rp2,1 juta. Dengan santainya, pelaku berdalih terjadi kesalahan transfer dan meminta selisih Rp900 ribu segera dikembalikan ke rekening Bank CIMB Niaga atas nama Ahmat Ariyandi dengan nomor rekening 708855449900.
Tanpa sempat mengecek mutasi rekening secara detail, korban akhirnya mentransfer uang tersebut. Bahkan bukti pengembalian uang turut dikirim kepada pelaku.
Belum puas menguras korban, pelaku kembali memainkan skenario kedua. Ia menambah pesanan sebanyak 40 kotak nasi agar total menjadi 100 kotak. Lagi-lagi, pelaku mengirim bukti transfer dengan nominal fantastis, kali ini Rp5 juta, padahal nilai tambahan pesanan hanya sekitar Rp1,4 juta.
Di titik itulah korban mulai mencium kejanggalan. “Nominal transfernya terlalu besar. Saya langsung cek mutasi rekening dan ternyata uang Rp3 juta maupun Rp5 juta itu sama sekali tidak pernah masuk,” ungkapnya.
Fakta itu membuat korban tersadar telah menjadi target penipuan terencana. Beruntung,korban belum sempat mengirim lagi uang pengembalian dari transaksi kedua. Namun kerugian Rp900 ribu dari transfer pertama sudah telanjur melayang.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi pelaku UMKM dan usaha kuliner di Nunukan. Modus bukti transfer palsu kini semakin marak dan menyasar pelaku usaha yang sibuk melayani pelanggan tanpa sempat memeriksa mutasi rekening secara langsung.
Pelaku memanfaatkan kelengahan korban dengan memainkan tekanan waktu dan pencitraan sebagai pihak instansi agar terlihat terpercaya. Jika korban panik dan terburu-buru, uang pun langsung berpindah ke rekening pelaku.
Masayu berharap pengalamannya menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak mudah percaya hanya karena melihat screenshot bukti transfer.
“Sekarang penipu makin pintar. Jangan pernah kirim barang atau kembalikan uang sebelum cek mutasi rekening sendiri. Kalau cuma lihat bukti transfer, kita bisa jadi korban berikutnya,” tegasnya. (Ozzie)
![]()
