NunukanSosok

Tak Sekadar Silaturahmi, Satgas Marinir Sebatik Abadikan Jejak Pengabdian Bang Buaya untuk Negeri

Bagikan ke

GEMAKALTARA.COM | SEBATIK TIMUR, KALTARA – Di garis terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia,sejarah pertahanan tidak hanya ditulis oleh prajurit yang mengangkat senjata.Ia juga lahir dari tangan-tangan masyarakat yang memilih mengabdi dalam senyap,memastikan negara tetap hadir di wilayah perbatasan.

Salah satu nama yang masih dikenang hingga kini adalah “almarhum H.Muhammad Nurdin” atau yang lebih akrab disapa “Bang Buaya”. Sosok yang semasa hidupnya menjadi sahabat Korps Marinir sekaligus penghubung antara negara dan masyarakat perbatasan itu kembali dikenang melalui kunjungan silaturahmi yang dilakukan 14 personel Komando Taktis (Kotis) Satgas Marinir Pengamanan Pulau Terluar (PAM Puter) Sebatik ke kediaman keluarganya, Sabtu (1/8/2026).

Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial.Di balik jabat tangan dan perbincangan hangat yang terjalin,tersimpan penghormatan mendalam atas jasa seorang tokoh yang telah memberi kontribusi nyata dalam memperkuat pelaksanaan tugas Korps Marinir di wilayah perbatasan Indonesia.

Sebelum bertolak menuju kediaman keluarga almarhum,seluruh personel lebih dahulu mengikuti apel yang dipimpin Komandan Satgas Marinir PAM Pulau Terluar,Kapten Marinir Ahmad Rizwan, S.Tr.Han, Selanjutnya rombongan yang dipimpin Bintara Utama (Bama) Serka Marinir Muhammad Toni bergerak menuju lokasi dalam suasana penuh keakraban dan rasa hormat.

Berita Terkait  Ribuan Jamaah Padati Lapangan Sungai Nyamuk Sebatik dalam Tablig Akbar Akhir Tahun Bersama Habib Husen bin Abdullah AL-Kaff

Dalam silaturahmi tersebut,Satgas Marinir menyampaikan rencana melaksanakan ziarah ke makam Bang Buaya,pada rangkaian peringatan’Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.Bagi para prajurit,ziarah itu bukan sekadar tradisi,melainkan bentuk penghargaan kepada sosok yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang pengabdian Korps Marinir di Pulau Sebatik. Semasa hidupnya, Bang Buaya dikenal sebagai tokoh yang selalu hadir ketika negara membutuhkan dukungan masyarakat.Pada masa ketika jaringan telepon seluler belum menjangkau kawasan perbatasan,ia menjadi bagian penting dalam menjaga komunikasi operasional melalui” bantuan komunikasi (bankom) berbasis radio.

Melalui jaringan tersebut, laporan situasi dari pos-pos Marinir di Bunyu,Pulau Nunukan hingga Pulau Sebatik dapat diteruskan secara berkala.Di tengah keterbatasan teknologi saat itu,peran tersebut menjadi penopang penting kelancaran komunikasi operasi di wilayah yang memiliki nilai strategis bagi pertahanan negara.

Berita Terkait  Basri Minta Masyarakat Nunukan Saring Informasi dan Jaga Persatuan

Tak hanya membantu komunikasi,Bang Buaya juga menjadi figur yang dipercaya menjembatani hubungan Korps Marinir dengan para tokoh masyarakat dalam proses hibah lahan untuk pembangunan sejumlah Pos Marinir di Pulau Sebatik.Peran itu menunjukkan bahwa menjaga kedaulatan negara tidak selalu dilakukan di garis tembak,tetapi juga melalui kepercayaan,kebersamaan dan semangat gotong royong antara masyarakat dengan aparat negara.

Mewakili keluarga, Camat Sebatik Timur, Zainal Abidinsyah SE, menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan Komandan Satgas beserta seluruh personel Kotis Satgas Marinir PAM Pulau Terluar.

Ia menilai, kunjungan tersebut merupakan wujud penghormatan yang tulus kepada seorang tokoh yang telah memberikan sumbangsih besar bagi kepentingan bangsa di wilayah perbatasan.

Berita Terkait  Perkuat Etika dan Disiplin Aparatur, BKPSDM Nunukan Gelar Sosialisasi di Sebatik Utara

“Pengabdian tidak akan pernah kehilangan makna ketika terus dikenang oleh generasi penerus.Silaturahmi ini menjadi bukti bahwa Korps Marinir tidak melupakan mereka yang pernah berdiri bersama dalam menjaga kedaulatan negeri.Semoga sinergi antara TNI,pemerintah daerah dan masyarakat perbatasan terus terjalin erat demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama.Namun lebih dari sekadar dokumentasi,momen itu menjadi simbol bahwa hubungan antara Korps Marinir dan masyarakat Sebatik telah terbangun bukan hanya oleh tugas negara,melainkan juga oleh ikatan persaudaraan yang telah terjalin lintas generasi.

Di perbatasan,benteng pertahanan tidak hanya berdiri dari beton dan baja.Ia juga dibangun oleh ingatan terhadap mereka yang pernah mengabdi tanpa pamrih.Melalui penghormatan kepada Bang Buaya,Satgas Marinir menegaskan bahwa jasa para tokoh perbatasan akan selalu menjadi bagian dari sejarah perjuangan menjaga kedaulatan Indonesia. (Ozzie)

Loading

Keep Scrolling

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *