Bukan Sekadar Sepeda Tua, Onthel di Sebatik Jadi Gerakan Hidup Sehat

oleh -243 Dilihat
oleh

Dari peninggalan masa lalu hingga gowes bersama lintas generasi, komunitas sepeda onthel di Pulau Sebatik merawat sejarah sekaligus menghidupkan budaya olahraga di wilayah perbatasan.

GEMAKALTARA.COM | SEBATIK, KALTARA — Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan menjamurnya kendaraan bermotor,sepeda onthel justru menemukan kehidupan baru di Pulau Sebatik,Kabupaten Nunukan,Kalimantan Utara.

Bagi sebagian orang, sepeda onthel mungkin hanya dipandang sebagai kendaraan tua yang tersisa dari masa lalu. Namun bagi sejumlah warga Sebatik, sepeda dengan karakter klasik itu memiliki makna jauh lebih besar, ia menjadi bagian dari sejarah, simbol kebersamaan, sekaligus sarana untuk mengajak masyarakat kembali bergerak dan menjaga kesehatan.

Semangat itu kini diwujudkan melalui perkumpulan pecinta sepeda onthel di Sebatik.  Sebanyak 28 orang telah bergabung dalam komunitas tersebut. Mereka rutin menggelar kegiatan gowes bersama, mulai pagi, sore, hingga sesekali malam hari.

Komunitas ini tidak dibangun sekadar untuk mengoleksi sepeda tua. Lebih dari itu, para anggotanya ingin menjadikan hobi sebagai gerakan sosial yang mampu mendekatkan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya olahraga.

Sejumlah elemen masyarakat ikut bergabung. Di antaranya tokoh masyarakat dan mantan Sekretaris Camat (Sekcam) Saleh, mantan Kepala Desa Sungai Nyamuk Abd Kadir, Mas Woko bersama jajaran personel Polres Nunukan, personel Polsek Sebatik Timur, pemuda serta masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap olahraga dan sepeda klasik.

Dari Jawa ke Sebatik

Kecintaan terhadap sepeda onthel bahkan membuat Saleh rela melakukan perjalanan jauh hingga ke Pulau Jawa. Bukan untuk sekadar menambah koleksi, tetapi mencari sepeda-sepeda klasik yang masih layak digunakan dan kemudian menghidupkannya kembali di Sebatik.

Bagi Saleh, mempertahankan sepeda onthel bukan berarti menolak perkembangan zaman. Justru, sepeda lama itu dapat diberi fungsi baru sesuai kebutuhan masyarakat saat ini.

Semangat tersebut ia kaitkan dengan kampanye hidup sehat yang sederhana, murah dan bisa dilakukan siapa saja.

“Tujuannya adalah untuk memotivasi seluruh masyarakat agar senantiasa menjaga kesehatan,memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat dalam bentuk apa pun.Yang paling utama adalah kita tetap selalu bergerak,” ujar Saleh.

Pesan tersebut menjadi roh dari kegiatan komunitas. Gowes tidak harus identik dengan perlengkapan mahal ataupun kendaraan modern. Dengan sepeda yang ada, masyarakat tetap dapat berolahraga sekaligus membangun ruang perjumpaan.

Merawat Sejarah, Menghidupkan Kebersamaan

Sepeda onthel yang dahulu dikenal sebagai kendaraan bergengsi pada masa kolonial Belanda maupun Jepang kini memang tidak lagi menjadi pilihan utama transportasi masyarakat. Kendaraan bermotor menawarkan kecepatan dan efisiensi yang jauh berbeda. Namun, nilai sejarah sepeda onthel tidak serta-merta hilang.

Di tangan para pencintanya, sepeda tersebut kembali hadir di jalan-jalan Sebatik. Bukan sebagai kendaraan utama untuk mengejar waktu,melainkan sebagai pengingat bahwa benda-benda lama masih dapat memiliki tempat di tengah kehidupan modern.

Setiap kegiatan gowes juga membuka ruang interaksi lintas profesi dan generasi. Aparat kepolisian dapat berbaur dengan tokoh masyarakat, pemuda, hingga warga umum tanpa sekat.

Di tengah kehidupan masyarakat perbatasan yang terus berkembang, ruang kebersamaan semacam itu menjadi penting.

Komunitas tersebut berharap jumlah anggota ke depan terus bertambah. Angka 28 orang yang telah bergabung saat ini dipandang sebagai titik awal untuk membangun gerakan yang lebih luas.

Bukan hanya memperbanyak koleksi sepeda, tetapi memperbanyak masyarakat yang mau berolahraga.

Sebab, di balik bunyi rantai dan kayuhan sepeda tua yang melintasi jalan-jalan Sebatik, ada pesan sederhana yang ingin terus disampaikan “menjaga kesehatan tidak harus mahal dan melestarikan sejarah tidak harus berhenti di museum”.

Sepeda onthel mungkin berasal dari masa lalu. Namun di Sebatik, semangat yang dibawanya justru sedang diarahkan untuk masa depan.

Sebuah sepeda tua, sebuah jalan dan kemauan untuk mengayuh.

Dari Pulau Sebatik, pesan itu terus bergerak bersama roda-roda sepeda onthel.

“Bahwa benda lama tidak selalu berarti usang. Bahwa sejarah bisa tetap hidup ketika dirawat. Dan bahwa menjaga kesehatan terkadang hanya membutuhkan satu keputusan sederhana mulai bergerak” tutup Saleh. (Ozzie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.