UNAIR dan UMS Perkuat Kajian Perikanan Perbatasan Melalui Community Empowerment Program di Sebatik

GEMAKALTARA.COM | SEBATIK, KALTARA – Pulau Sebatik kembali menegaskan posisinya sebagai kawasan strategis perbatasan yang memiliki peran penting dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Komitmen tersebut diperkuat melalui kegiatan Community Empowerment Program yang digelar Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Universiti Malaysia Sabah (UMS) bertempat di PLBN Sebatik, Rabu (17/6/2026) dengan melibatkan akademisi, profesor, peneliti, nelayan serta pemangku kepentingan dari Indonesia dan Malaysia
Program bertaraf internasional ini tidak sekadar menjadi agenda pengabdian kepada masyarakat,tetapi juga menjadi langkah nyata dalam membangun fondasi kerja sama akademik lintas negara guna memperkuat kajian perikanan perbatasan yang selama ini memiliki tantangan dan karakteristik tersendiri.

Pulau Sebatik dipilih karena merupakan salah satu wilayah terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Kawasan ini menjadi ruang strategis untuk mengkaji berbagai persoalan perikanan,mulai dari pengelolaan sumber daya laut,aktivitas penangkapan ikan,dinamika sosial ekonomi nelayan hingga peluang pengembangan sektor perikanan yang berkelanjutan.
Perwakilan UNAIR, Lina Puryanti,menjelaskan bahwa kerja sama dengan UMS merupakan bagian dari komitmen kedua perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi masyarakat yang hidup di kawasan perbatasan.
“Sebatik merupakan wilayah yang sangat strategis karena berada di antara dua negara. Karena itu kami menggandeng Universiti Malaysia Sabah sebagai mitra yang selama ini telah menjalin kerja sama dengan Universitas Airlangga.Dalam kegiatan ini hadir tiga profesor yang akan berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait sektor perikanan,” ujarnya, Rabu (17/6/2026)
Menurutnya, penguatan sektor perikanan tidak dapat dilakukan hanya melalui pendekatan akademik semata. Dibutuhkan pemahaman yang utuh terhadap realitas yang dihadapi masyarakat nelayan agar kebijakan maupun rekomendasi yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.
Karena itu,rangkaian kegiatan difokuskan pada dialog langsung dengan para nelayan. Tim akademisi dari kedua universitas menggali berbagai persoalan yang selama ini menjadi tantangan masyarakat pesisir,termasuk pola penangkapan ikan,pemanfaatan sumber daya laut, aspek keberlanjutan lingkungan hingga dinamika aktivitas perikanan di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.
Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi bahan rekomendasi ilmiah yang dapat mendukung pengambilan kebijakan pembangunan perikanan yang lebih efektif, inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Kehadiran akademisi dari dua negara itu mendapat apresiasi dari berbagai pihak.Anggota DPRD Kabupaten Nunukan, Ramsah menilai kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kawasan perbatasan.
“Terima kasih kepada Universitas Airlangga dan Universiti Malaysia Sabah yang telah memilih Pulau Sebatik sebagai lokasi kegiatan. Kami berharap hasil dari program ini tidak hanya berhenti pada kajian akademik,tetapi juga dapat melahirkan solusi dan rekomendasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,khususnya para nelayan,” kata Ramsah.
Ia menegaskan bahwa nelayan Sebatik memiliki peran strategis dalam menjaga aktivitas ekonomi pesisir sekaligus menjadi bagian dari wajah Indonesia di wilayah perbatasan.Karena itu,perhatian terhadap peningkatan kapasitas nelayan,penguatan tata kelola perikanan dan keberlanjutan sumber daya laut menjadi hal yang sangat penting.

Menurut Ramsah, masyarakat perbatasan Indonesia dan Malaysia selama ini hidup berdampingan dengan baik. Hubungan sosial dan ekonomi yang terjalin menjadi modal penting dalam menciptakan stabilitas kawasan sekaligus mendukung pengembangan sektor perikanan yang lebih maju dan kompetitif.
Kegiatan kemudian ditutup dengan diskusi interaktif antara akademisi, peneliti dan nelayan yang membahas berbagai peluang pengembangan sektor perikanan di masa depan. Forum tersebut menghasilkan berbagai masukan yang akan menjadi bagian dari kajian bersama kedua universitas dalam merumuskan strategi pembangunan perikanan berbasis kebutuhan masyarakat perbatasan.
Lebih dari sekadar program pengabdian masyarakat,Community Empowerment Program UNAIR–UMS menjadi simbol penguatan diplomasi akademik Indonesia–Malaysia dalam mendukung pembangunan kawasan perbatasan.Di Pulau Sebatik,ilmu pengetahuan bertemu dengan pengalaman lapangan,riset berpadu dengan kebutuhan masyarakat dan kolaborasi internasional diwujudkan untuk membangun sektor perikanan yang tangguh,berdaya saing,serta berkelanjutan bagi generasi mendatang. (Ozzie)
![]()
